Diposkan pada Love Story

Mohon bimbingan Belajar dari teman teman penulis

Teman sesama blogger,sesama penulis, sesama pembaca yang pernah mengenal saya sebelumnya atau baru mengenal saya

bolehkah saya meminta saran, atas halaman pertama tulisan saya ini..

entah ini prolog atau bukan?

apakah tulisan yang mau saya jadikan novel ini layak di lanjutkan atau tidak? mohon sarannya, tolong selamatkan saya untuk tidak mengambil keputusan sendiri sebelum menulis 5000 halaman hehehe

dan bagaimana kepenulisan saya? apakah eyd saya berantakan?

jika berkenan bantu saya ya…

ini pertama kalinya saya ingin membuat novel setelah bacotan bacotan sebelumnya

salam kayang….

terima kasih, salam penulis

 

PROLOG

You Have A Dream?

Dirga menyentuh layar dihandpone Evercossnya yang sudah usang itu, waktu menunjukkan keberangkatan sekitar 120 menit lagi, kali ini dia sengaja datang lebih awal. Agar ada waktu untuk bisa menikmati secangkir kopi dan beberapa batang rokok, agar tak terburu-buru seperti biasanya.

“Mas Dirga.” Sapa seorang pria paruhbaya yang menguruskan keberangkatannya ke Jakarta.

“Permisi mas, ini tiketnya sudah saya handle…mas tinggal masuk aja nanti”

Seorang Pria berkacamata, kurus dengan rambut panjang diikat dibaluti pakaian serba hitam sedang asik menyesap segelas kopi sambil mendegar musik keras dengan headphone tidak menyadari seseorang telah berbicara kepadanya.

“Mas?” Pria itu mencoba menepuk bahu pria yang dia maksud.

Sontak Dia terkejut, melepas headphone dan berdiri dari dudukannya “Oh iya, maaf!…tiket saya ya? makasih ya Pak Huda!” ucap Dirga.

“Ada yang bisa saya bantu lagi mas?” tanyanya pak huda, berharap mungkin masih ada yang bisa dia lakukan,Sementara Dirga masih berpikir sejenak…

“Bapak sedang sibuk atau enggak?” tanya Dirga.

“Kalau boleh jujur, sebenarnya pagi ini saya mau ajak anak saya yang no 4 jalan-jalan…”

Tiba-tiba Dirga menepuk pahanya. Respon pak huda terkejut, air wajahnya berubah, kini dia gusar akan pernyataannya tadi.

“Charger handphone saya tinggal di hotel!”

Pak huda keheranan, hampir saja jantungnya yang tua gugur di medan perang. Dirga menggaruk jidatnya sambil menggumam, sepertinya lagi-lagi harus membeli charger….hanya sebuah charger.

“Mau saya ambilkan mas? Masih sempat kok ini?” tawar pak huda tergesa-gesa.

“Enggak…gak usah pak…saya sudah banyak merepotkan”

Karena melihat reaksi Dirga, pak Huda semangkin bingung dengan situasi ini. Apakah tindakan yang harus dia ambil? Apakah permasalah soal charger ini adalah permasalahan yang serius atau bagaimana.

“Yaudah bapak pulang aja, tugas bapak udah selesai kok pak”

“Tapi mas…”

Dirga menyalami dan menepuk lengan pak Huda “Saya makasih banyak pak. Dan Dirga mengambil beberapa lembar uang dan memasukkan ke kantong baju pak Huda, dan karena tidak enak hati ada keiinginan segera menolak “Jangan…” Dirga memotong sanggahan pak Huda “Terima ya pak, atas bantuan bapak selama beberapa hari ini”

lalu pak Huda memeluk Dirga dengan erat, meski belum lama mengenal, pak Huda sudah seperti mengenal Dirga bertahun-tahun.

“Saya pergi ya pak, mohon doanya”

Dirga pun berjalan menuju ruangan tunggu penumpang.

“Mas Dirga!” teriak pak Huda.

Dirga membalikkan punggunya.

“Saya yakin Mbak Dessy pasti akan berubah pikiran”

Dirga terdiam — dia tau bahwa pak Huda tanpa maksud apa-apa dan sepertinya itu tulus dukungan darinya—  Dirga hanya bisa membalas dengan senyuman — tanpa sepatah katapun, mungkin kalimat di otaknya sudah habis jika mendengar nama Dessy, karena detik ini juga Dirga belum mendengar kabar darinya—  dan Dirga melanjutkan langkahnya kedepan.

——-M——-

Setelah melakukan pengecekan Dirga memasuki ruang tunggu, sambil berjalan dia melihat sekitar, mencari tempat strategis untuk rebahan, kali ini dia beruntung karena belum terlalu ramai.

Dirga meletakkan tas coklat-nya —bermerek Pollo tiruan yang selalu di bawanya kemana-mana selama kurang lebih 4 tahun itu. Dia tidak pernah mengganti dengan tas yang baru meskipun sudah ada beberapa jahitan yang lepas dan resleting yang rusak, sangat mustahil jika dia tidak mampu membeli yang baru, alasanya cuma karena sangat erat dengan kenangan usang itu— Dengan lega Dirga menyandarkan punggunya, sudah 2 hari ini dia kurang istirahat karena kegiatan yang padat.

Tahun ini adalah tahun terpadat sepanjang sejarah hidupnya, kadang kadang dia merindukan masa-masa dimana dia bisa duduk di warung kopi dan tertawa dengan teman-teman akrabnya.

Dirga mengambil handphonenya, melihat koleksi slide foto bertahun-tahun yang lalu. Dirga tersenyum lebar, dia tertawa sendirian melihat tingkah mereka dulu, dan tiba-tiba jempolnya berhenti menggeser layar handphone, berhenti di satu foto. Kini terlihat mata dibalik kaca minus itu berbinar seketika.

Foto tumpukan kertas-kertas, inilah kenangan saat pertama kali Dirga berniat mencapai impiannya, impian yang mungkin imposible bagi sebagian orang.

You Have A Dream? Kata-kata yang sering tertuju untuk dirinya.

Semua itu berawal sekitar satu setengah tahun yang lalu…

Sebuah perbincangan yang tidak diduga-duga telah menghantarkan Dirga menjadi seperti sekarang ini.

——m——

 

Siang itu matahari tepat di atas kepala.

Di kota Pontianak, inilah kota yang di juluki kota Khatulistiwa.

Dirga dan salah satu teman akrabnya duduk di sebuah warung kopi yang terletak di pusat pasar Gajahmada,Wk.Winie. —Salah satu warkop dengan omset terbesar di Pontianak, mungkin karena warung kopi ini tidak mempunyai jam libur dan jam tidur, siang dan malam selalu dipenuhi pengunjung dari berbagai kalangan terutama mahasiswa—banyak perbincangan yang mereka bahas, masalah jodoh, dan beberapa anime terbaru tapi hanya satu yang mengganggu pikiran Dirga.

“Sampai kapan kita ngegembel ya Lex?” celoteh Dirga dengan seorang pria yang berbadan gempal, dengan rambutnya yang panjang seperti bintang FTV Ramon Tungka dan terlebih brewokan di sekujur dagunya menandakan Alex sudah sangat tampak seperti mahasiswa abadi. —Alex adalah satu-satunya teman takdir Dirga. Mereka berjumpa pertama kali saat di taman kanak-kanak,berlanjut di sekolah dasar, kemudian sekolah menegah pertama. Tidak direncanakan, itu terjadi begitu saja. Mereka bukan Bromance dan tidak bergantung satu sama lain—

Hampir setiap hari, jika mereka menghabiskan waktu duduk di warung kopi, selalu saja berbincang dengan tema yang itu-itu saja, seputar kehidupan mereka yang masih belum mapan, selain mengharapkan kiriman dari orang tua, mirisnya adalah umur sudah 25 tahun tapi belum juga menikah atau bekerja, sedangkan Alex yang notabene sedikit diatas Dirga masih kuliah dan belum ada tanda tanda untuk memasuki ranah skripsi. Mereka sepertinya adalah calon bibit pendemo pengangguran dimasa depan.

“Mana aku tau.” Alex menjawab dengan nada datar, sepertinya dia sudah bosan dengan perbincangan siang ini, —sebenarnya dia orang yang sangat bisa di ajak berdebat di saat Dirga membutuhkan pendapat meskipun bagi Dirga pribadi pendapatnya sangat tidak selaras— Alex meminum kopinya yang baru saja diletakan pelayan, ini gelas keduanya selama berjam-jam duduk disini.

Alex melihat kearah Dirga. “Sekarang main musik sudah enggak, lo mau ngapain lagi? Udah cari kerja sana!” tiba tiba saja nadanya yang tadi sangat santai kini berubah sedikit meninggi, mungkin dia sedang mabuk kopi.

Jika sudah terpojok seperti itu Dirga hanya bisa terdiam, apa lagi sudah menyangkut tentang pekerjaan dan sangat malas untuk membahas itu. Bagi tamatan SMA sepertinya sangat susah mencari pekerjaan yang bisa bertahan lama.

Alex melanjutkan pembicaraannya. “Kenapa gak nulis aja? Dari pada cari kerja aja gak mau,” dari nadanya terdengar Alex benar-benar serius.

Dirga menghembuskan asap rokok ke arah Alex.

“Kayak dulu lagi? Aku merasa gak bakat,” timpal Dirga.

Alex membakar rokoknya lalu membalas menggembuskan asapnya kearah Dirga. “Bukan masalah bakat atau enggak, yang penting ada yang lagi dikerjakan. Layaknya orang tua Alex memberi wejangan. “Sambil menunggu lo berubah pikiran dan menjadi waras untuk mencari kerja,” tegas Alex menambahkan.

Perkataan Alex kali ini ada benarnya juga, lagi pula dirumahpun Dirga tidak ada yang dilakukannya selain makan dan tidur, mungkin menulis bisa menjadi kegiatan yang tepat untuk mengisi waktu.

“Siapa tau bisa dapat pacar, kan?” Tanya Dirga antusias.

“Aku mau pulang.” Alex berdiri dari tempat duduknya dan menuju kekasir tanpa memperdulikan pertanyaan barusan.

“Jangan lupa eksekusi.” Dirga berharap Alex mau membayarkan segelas kopinya.

“Berapa jumlah semuanya mbak?” Tanya Alex, sambil melihat isi dompetnya yang tinggal Rp. 50.000, dengan nominal yang tersisa dia harus bisa bertahan hingga akhir bulan. Sedangkan temannya itu… Alex menoleh ke arah Dirga yang sedang duduk sambil melambaikan tangannya ke arah jalan—Dirga mencoba menegur beberapa gadis cantik yang lewat— Alex menggerutu di dalam hati, dia sudah bosan melihat tingkah laku temannya yang tidak jelas itu. Datang merantau ke kota bukannya mencari peruntungan malah ikut-ikutan menganggur, itu konyol.

Akhirnya mereka pulang setelah duduk hampir 3 jam di warung kopi, Sembari dijalan Dirga yang hanya terdiam di boncengan sambil mendengar nyanyian soundtrack anime dari mulut Alex, memikirkan berulang-ulang tentang saran Alex yang menyuruhnya untuk menulis kembali.

Dulunya Dirga dan Alex adalah penulis blog, Alex menulis beberapa karya Flash Fiction dan cerita tentang fenomena kehidupan. Salah satu karyanya telah terbit bersama Blogger-blogger Flash Fiction seluruh Indonesia. Sedangkan Dirga adalah penulis komedi seperti Raditya Dika, mencoba menulis tentang kegiatan konyolnya sehari-hari dan beberapa kisah cinta yang selalu di tolak dari masa ke masa.

—m—

Mereka telah sampai di rumah kontrakan Alex, rumah kontrakan yang sudah di tinggalinya kurang lebih satu tahun. Ini kali ke-5 Alex selalu berpindah-pindah karena harga kontrakan selalu naik setiap tahunnya. Ini adalah tuntutan Alex, jika harga sudah tak lagi bersahabat dengan dompet maka dia akan mencari opsi di tempat lain yang lebih murah.

“Panas banget.” Dirga sambil menekan tombol Dispenser—berharap mendapatkan kesegaran dari air galon yang isinya mungkin hanya bisa mengisi 3 gelas lagi— Lalu dia duduk menghadap kipas angin dan mencoba menekan beberapa tombol, tak ada respon apapun. Sepertinya rusak lagi. Lalu Dirga membuka bajunya, terlihat badannya yang kurus berpeluh karena panas. Kini dia tersandar di dinding sambil melihat Alex yang sedang mondar-mandir sibuk mengeluarkan Laptop dan mengeluarkan Stick PS dari kamarnya, sepertinya dia mau main Game lagi. Dan tiba-tiba saja terucap dari mulut Dirga

“Lex, aku pinjam pulpen dan kertas HVS, kayaknya aku mau nulis”.

Sebelum Alex sibuk dengan Game nya, Dirga meminta sebuah benda yang akan mengubah hidupnya.

Alex berpikir sejenak, mungkin barang yang dipinta Dirga masih ada di dalam lemari

“………Bentar aku ambil’in.”

Tak lama Alex keluar dari kamarnya, dia membawa 2 buah pulpen dan 5 lembar kertas HVS. Dengan tampangnya yang cool dia memberikan barang yang Dirga pinta.

You have a dream? Pertanyaan yang sering di tanyakan untuknya.

Apakah menulis akan membawa Dirga kembali ke jalan yang dulu sehingga berefek kepada jalan kehidupan di masa depan. Semenjak gagal membawa bandnya mencapai puncak tertinggi di Kal-bar mungkin tidak ada salahnya jika Dirga mencoba menulis lagi, toh pekerjaan kreatif adalah yang paling dinginkan dalam hidupnya. Bagi seorang seniman,sudah seharusnya mencoba hal-hal yang baru atau mencoba kembali.

Keputusan coba-coba yang diambilnya pada hari itu, dari sepasang pulpen dan kertas. Tanpa dia sadari perjalanan impiannya telah dimulai.

 

Iklan

Penulis:

Masih Bermimpi Menjadi Penulis

14 tanggapan untuk “Mohon bimbingan Belajar dari teman teman penulis

  1. Hallo Madi apa kabar? maaf baru bisa berkunjung.

    Kalau soal opini apakah tulisan di blog ini bisa dijadikan novel apa nggak, aku belum tahu nih soalnya blom pernah punya pengalaman nulis novel, tapi ada teman Blogger yg pernah nulis 2 kali di blog seorang novelis, mungkin kamu bisa tanya dia, coba baca tulisan pertamnya di blogku ini linknya http://duniaely.com/2013/07/29/8-langkah-menulis-novel-dari-perjalanan-wisata/ atau kamu bisa tanya langsung ke mas Brahm, si penulis novel itu di blognya, ada linknya di postingan, semoga membantu ya, dan semoga sukses nulis novelnya 🙂

    Bgmn sdh jadian sama si doi? 🙂

    1. Alhamdulillah baik mbak el, saya makasih banyak mbak el mau berkunjung 😀

      saya Lagi coba-coba nulis novel ni mbak, siapa tau bakat hehe… makasih,makasih,makasih mbak el atas bantuannya.
      saya langsung menuju ke linknya mbak.

      wah miris haha,,sekarang saya masih jomblo mbak…
      belum jodoh mungkin 😦
      gak apa-apalah, Allah punya rencana yg lebih baik hehehe.

      Mbak el gimana kabarnya?

Yang Comment Dapat Pahala

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s